Senin, 01 September 2008

Selepas SMA

Ada saatnya, ketika gak ada kerjaan sama sekali, memori cekak ini mengingat kembali perjalanan hidup, dan godaan menarik diri untuk bernostalgia dengan masa lalu, yang jelas2 telah terlepas.


Ada saatnya, ketika gak ada kerjaan sama sekali, memori cekak ini mengingat kembali perjalanan hidup, dan godaan menarik diri untuk bernostalgia dengan masa lalu, yang jelas2 telah terlepas.
Selepas lulus SMA aku bekerja sebagai kuli di sebuah gudang buku, kerjaanku sehari2 adalah repacking buku2 yang dikirim dari percetakan atas pesanan depdikbud. Setiap pagi berangkat dari rumah jam 7 pagi dan sampe gudang jam 8, jam masuknya adalah jam setengah sembilan, masih ada waktu untuk persiapan diri (karena kerja berat dan kotor, maka ketika sampe di gudang harus ganti dengan baju yang lebih layak, celana pendek dan kaos oblong). Biasanya pekerjaan pertama yang harus dilakukan adalah mengeluarkan semua buku dari box2 kiriman dari percetakan, untuk kemudian dikumpulkan sesuai dengan mata pelajaran dan kelasnya. Setelah itu mengatur buku2 tsb sesuai dengan permintaan, biasanya diatur untuk pengiriman ke kota/kabupaten di Jawa Timur, tak lupa memberi tanda pada setiap box-nya. Kemudian box2 ini di angkat manual ke atas kendaraan, sebuah truk 6 roda. Aktivitas ini diselingi dengan kedatangan truk2 tronton (yang ini lebih besar lagi, truk dengan 8 roda lebih yang bisa memuat kontainer) datang mengirim buku dari percetakan, dimana tugasku adalah mengeluarkan buku2 tsb dari atas truk untuk kemudian di taruh di dalam gudang. Setiap hari tak kurang dari 10 truk berangkat dan 4 - 6 truk tronton yang datang. Rutinitas ini berlangsung setiap hari, dari jam setengah sembilan pagi sampe jam sepuluh malam. Sampe jam sepuluh malam ! kami, para kuli, ingin mendapatkan hasil yang lebih banyak. Upah sehari adalah 15 ribu, bekerja 8 jam dari jam setengah sembilan sampe jam setengah enam sore. Selepas jam tsb adalah jam lembur, dimana upah kerja adalah 2 kali jam kerja biasa. Karena ketatnya jadwal pengiriman, maka setiap hari hampir semua kuli mendapatkan jatah lembur, sehingga upah yang diterima bila sampe kerja lembur adalah 30 ribu per hari. Seminggu 6 hari kerja dan upah dibayarkan mingguan setiap hari sabtu, biasanya kami mendapatkan upah ± 180 ribu per minggu. Cukuplah untuk bertahan hidup bagi seorang kuli dengan 2 orang anak, dan lebih dari cukup bagiku yang masih belum punya tanggungan. Itu adalah 14 tahun yang lalu.Tentu saja pekerjaan ini bukanlah cita2ku, awalnya aku terjerumus (halah....) dalam pekerjaan ini adalah karena status pengangguranku menjadi lebih jelas ketika aku lulus SMA, kalo sebelumnya masuk pengangguran tidak kentara, maka setelah lulus SMA dan tidak melanjutkan kuliah maka statusku menjadi pengangguran yang sangat kentara sekali. Perubahan status ini memberikan tekanan yang lumayan berat pada diriku. Sebenernya, sama seperti hampir semua lulusan SMA yang laen, aku ikut juga kompetisi ujian masuk PTN, mengadu peruntungan, siapa tau nasib menempatkan diri dalam barisan orang2 yang beruntung bisa menikmati pendidikan yg lebih tinggi. Namun ternyata pilihan untuk masuk jurusan bergengsi di ITS bukanlah pilihan yang tepat, aku gagal. Beberapa bulan setelahnya kerjaanku adalah keluyuran gak tentu arah, kadang mampir kerumah teman, kadang jalan2 di pasar, mall, ataupun tidur di rumah kalo sdh capek. Sedangkan teman2ku yang laen sdh mulai kuliah, meski gak semuanya masuk PTN. Lepas sudah angan2 untuk bisa kuliah. Sampe suatu ketika teman kakakku mengajakku untuk ikut bekerja di gudang buku. Pekerjaaan yang aku lakoni selama 2 bulan, sebelum akhirnya di PHK karena proyeknya sdh mau habis. Hari terakhir waktu pemutusan hubungan kerja, aku mampir kerumah teman SMA-ku, dia termasuk salah satu teman baikku. Selepas SMA dia meneruskan studi di salah satu PTS di Surabaya, dan sore itu aku sempatkan mampir ke rumahnya. Seperti biasa jagongan di rumahnya serasa seperti di rumah sendiri, itu karena dari dulu (sejak SMP) rumah teman ini jadi trongkrongan kami. Keluarganya selalu menerima kami dgn baik, kami2 ini adalah si pemberi rejeki (ini karena suatu ketika bapak temanku itu bilang “gpp kumpul2 nang kene, ben omahe rame, tambah rame tambah akeh rejekine......”). Obrolan dengan temanku tsb dimulai dengan tukar informasi, mengenai teman2 kami lainya. Sebagian besar teman kami melanjutkan studi di kota ini pula, hanya sedikit yang merantau ke tempat lain. Setelah beberapa saat perbincangan masuk ke topik soal masa depan, temanku itu ngajak untuk ikut ujian masuk PTN lagi. Seketika aku langsung kembali bersemangat, mengiyakan ajakannya untuk mencoba mengadu nasib sekali lagi sambil cerita kalo pada hari itu aku sdh gak kerja lagi di gudang karena sdh gak dibutuhkan lagi. Kebetulan juga pada saat itu adalah saat-saat dimana pendaftaran untuk ujian masuk PTN berusan dibuka. Esoknya kami berdua mendatangi UNAIR, karena kampusnya paling dekat dengan rumah temanku ini, untuk mencari informasi mengenai pendaftaran. Mungkin karena keberutungan kami, ternyata pada hari itu adalah hari terakhir pendaftaran ujian masuk PTN untuk lulusan SMA tahun sebelumnya. Melayanglah duit 25 ribu untuk membeli formulir pendaftaran, yang kata orang sekarang itu adalah sebuah investasi. Setelah membeli formulir pendaftaran, malamnya kami isi beramai2 dengan teman2 yang laen, yg sengaja ditelpon apakah ikut ujian masuk PTN tahun ini sekaligus janjian untuk ngisi formulis bersama2. Berbekal trauma akan pilihan dimasa lalu, aku putuskan untuk lebih rasional dalam memilih jurusan kali ini. Ada 2 pilihan jurusan yang diberikan, kesemuanya masuk IPA. Pilihan2 itu harus gak sesulit pilihan tahun kemarin, pikirku saat itu, dan keingianku untuk kuliah di ITS membuatku kesulitan untuk menentukan pilihanku. Akhirnya jurusan yang beruntung adalah teknik kimia, sebagai pilihan pertamaku. Namun untuk pilihan kedua, aku masih kebingunan mau pilih yang mana. Akhirnya pilihan itu jatuh pada jurusan statistika, dan itupun dipilihkan oleh teman2ku karena aku tak tau harus pilih jurusan apa waktu itu. Waktu yang ada aku gunakan sebaik2nya untuk membuka kembali buku2 SMA-ku. Pada saat ujian berlangsung, lumayan juga soal2 yang bisa aku kerjakan. Setelah menunggu beberapa minggu akhirnya hasil ujian diumumkan di media cetak. Pakde-ku pagi2 sekali yang memberitahuku bahwa nama dan nomor pendaftaranku ada dalam barisan peserta yang diterima di PTN. Kegembiraan sejenak di pagi hari. Setelah mencocokkan sendiri, akhirnya aku tau kalo aku diterima di jurusan statistika, di ITS.

0 komentar: